Ramalan Ngeri, Ini Saran “Raja Obligasi” Buat Para Investor

Jeffrey Gundlach. Dok: CNBC Internasional

Laju penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terhenti Kamis kemarin. Aksi profit taking menerpa setelah IHSG sebelumnya mencapai level tertinggi sejak awal Maret, membuatnya turun 0,45% ke 6.808,95.

Sebanyak 268 saham turun, 265 saham naik sementara 186 saham lainnya tidak bergerak. Nilai transaksi sekitar Rp10 triliun dengan melibatkan 18 miliar saham yang berpindah tangan sebanyak 1,35 juta kali.

Di saat yang sama rupiah sukses mencetak hat-trick alias penguatan 3 hari beruntun melawan dolar Amerika Serikat (AS).

Kolapsnya Silicon Valley Bank (SVB) yang merembet ke dua bank di AS lainnya, bahkan membuat perbankan Eropa ikut gonjang-ganjing memberikan keuntungan bagi rupiah.

The Fed di bawah pimpinan Jerome Powell sebenarnya diprediksi akan kembali agresif menaikkan suku bunga acuannya pada pekan lalu. Nyatanya, akibat gonjang-ganjing sektor perbankan The Fed hanya menaikkan 25 basis poin menjadi 4,75% – 5%, dan membuka peluang untuk tidak lagi menaikkan suku bunga.

Sejak pengumuman pada Kamis (23/3/2023) dini hari waktu Indonesia itu, rupiah cenderung mengalami penguatan.

Aliran modal pun kembali masuk ke pasar obligasi Indonesia. Sebelum SVB kolaps pada 10 Maret lalu, sebenarnya terjadi capital outflow sepanjang hingga Rp 8 triliun sejak akhir Februari, berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR).

Pada Februari, capital outflow juga tercatat sekitar Rp 7,6 triliun. Namun, arah angin berbalik sejak SVB kolaps, hingga 27 Maret terjadi inflow nyaris Rp 9 triliun. Dengan demikian, sepanjang bulan ini hingga Senin lalu, aliran modal berbalik masuk sekitar Rp 780 miliar.

Capital inflow yang cukup besar pasca kolapsnya SVB tersebut menjadi salah satu faktor yang menjaga kinerja rupiah.

Dari pasar obligasi, Surat Berharga Negara (SBN) menguat di hampir semua tenor, terlihat dari imbal hasil (yield) yang turun.

Pergerakan yield berbanding terbalik dengan harga obligasi, ketika yield turun artinya harga sedang naik.

Bursa Saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street melesat lagi pada awal perdagangan Kamis (30/3/2023) waktu setempat. Sektor perbankan kembali menguat, membuat pelaku pasar memprediksi gonjang-ganjing sudah selesai.

Indeks Dow Jones naik 0,43% ke32.859,03, S&P 500 menguat 0,57% ke 4.050,83, Nasdaq sekali lagi memimpin sebesar 0,73% ke 12.013,47.

Data ekonomi dari Amerika Serikat menunjukkan klaim tunjangan pengangguran dalam sepekan yang berakhir 25 Maret sebanyak 198.000 klaim, naik 7.000 dibandingkan pekan sebelumnya, dan sedikit di atas ekspektasi 195.000 klaim.

Klaim tunjangan pengangguran tersebut memberikan gambaran pasar tenaga kerja AS yang masih kuat meski bank sentral AS (The Fed) sangat agresif dalam menaikkan suku bunga.

Selain itu, data yang dirilis hari ini menunjukkan data produk domestik bruto (PDB) final AS kuartal IV-2022 tumbuh sebesar 2,6%, lebih rendah dari rilis sebelumnya 2,7%.

Di kuartal I-2023, pertumbuhan ekonomi AS diprediksi masih akan berakselereasi. Berdasarkan data GDPNow milik Fed Atlanta, PDB diprediksi tumbuh 3,2%.

Kuatnya perekonomian AS sebenarnya memberikan kebingungan di pasar. Dalam kondisi normal, hal tersebut bagus, tetapi saat “berperang” melawan inflasi tinggi akan menjadi buruk.

Inflasi tinggi akan susah turun saat PDB tumbuh tinggi. Namun, dengan The Fed diprediksi tidak akan agresif lagi menaikkan suku bunga, bahkan banyak yang melihat tidak akan dinaikkan lagi, harapan Amerika Serikat lolos dari resesi semakin besar, meski masih menyisakan pertanyaan apakah inflasi bisa turun atau masih tetap bandel.

Wall Street yang kembali menguat tentunya memberikan sentimen positif ke pasar saham Asia, termasuk IHSG. Rupiah juga berpeluang kembali menguat saat sentimen pelaku pasar sedang bagus.

Meski demikian, Jeffrey Gundlach, investor veteran yang dikenal sebagai “Raja Obligasi” justru memberikan saran sell on rally atau menjual saat terjadi kenaikan.

Dalam sebuah wawancara dengan CNBC International awal pekan ini. Dalam kesempatan tersebut, Gundlach yang pendapatnya kerap dijadikan referensi pelaku pasar menyarankan hal tersebut saat indeks S&P 500 menyentuh kisaran 4.200 – 4.300.

“Pasar sangat fluktuatif, sehingga sulit melakukan sell on weakness,” kata Gundlach dalam wawancaranya dengan CNBC International, Senin (27/3/2023).

Ia melihat dalam beberapa bulan ke depan Amerika Serikat akan mengalami resesi

“Tekanan bagi perekonomian semakin besar, kita sudah membicarakan hal tersebut beberapa waktu terakhir, dan saya pikir resesi akan datang dalam beberapa bulan ke depan,” ujarnya.

Gundlach pun menyebut The Fed akan bertindak dramatis dengan memangkas suku bunga beberapa kali tahun ini.

Jika melihat prediksi sang “Raja Obligasi”, dampak ke pasar finansial Indonesia seharusnya tidak akan parah. Sebab, meski resesi terjadi, The Fed diprediksi akan memangkas suku bunga, yang tentunya memberikan sentimen positif ke pasar saham.

Investor veteran Ed Yardeni juga melihat Wall Street justru akan menguat ke depannya sebab The Fed menghentikan kenaikan suku bunga. Yardeni memprediksi indeks S&P 500 akan menyentuh 4.600 pada akhir tahun nanti, atau naik sekitar 14% dari level saat ini.

Menurutnya krisis perbankan yang terjadi beberapa pekan terakhir sudah berakhir diredam. Pasca terjadinya krisis, The Fed diprediksi tidak akan lagi menaikkan suku bunga, meski tidak juga melakukan pemangkasan.

“Saya tidak melihat The Fed akan menurunkan suku bunganya. Tetapi saya pikir saat ini mereka sudah berada di posisi restriktif di mana mereka tidak perlu lagi menaikkan suku bunga,” kata Yerdani sebagaimana dilansir Business Insider, Kamis (30/3/2023).

Rilis data inflasi AS versi personal consumption expenditure (PCE) malam ini akan menjadi perhatian utama pelaku pasar dan bisa berdampak ke pasar finansial Indonesia pekan depan. Data ini merupakan acuan The Fed dalam menetapkan kebijakan moneternya.

Hasil polling Reuters menunjukkan inflasi inti PCE tumbuh 4,7% year-on-year (yoy) pada Februari, sama dengan bulan sebelumnya. Tetapi tentunya tidak menutup kemungkinan ada kejutan entah itu lebih rendah atau justru kembali menanjak.

Selain itu, perhatian pagi ini tertuju ke China yang akan melaporkan data aktivitas manufaktur, dilihat dari purchasing managers’ index (PMI). Hasil polling Reuters menunjukkan PMI manufaktur China bulan ini sebesar 51,5 lebih rendah dari bulan sebelumnya 52,6.

Meski menurun, angka tersebut masih di atas 50 yang berarti ekspansi. Hal ini bisa memberikan sentimen positif ke pasar saham hingga rupiah, sebab China saat ini menjadi penopang pertumbuhan ekonomi global. Sektor manufakturnya yang tetap berekspansi memberikan gambaran permintaan impor komoditas masih cukup bagus.

Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:

  • Inflasi Tokyo Jepang (6:30 WIB)
  • PMI manufaktur China (8:30 WIB)
  • Penjualan ritel Jerman (13:00 WIB)
  • PDB final Inggris (13:00 WIB)
  • Menteri Koperasi dan UKM akan menyelenggarakan Konferensi Pers terkait Update Kondisi Tekstil dan Sikap Asosiasi Terhadap Importasi Tekstil Ilegal di Indonesia bersama Asosiasi Pertekstilan Indonesia (15:30 WIB)
  • Inflasi zona euro (16:00 WIB)
  • Inflasi PCE AS (19:30 WIB)
  • Sentimen konsumen AS (21:00 WIB)
  • Pertemuan menteri ekonomi dan gubernur bank sentral ASEAN di Bali. 

Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:

  • Cash Dividend (Ex):FASW
  • RUPS: OKAS, RUNS, BNII, MEDS, CITA, BDMN, SQMI, COAL

Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*