Kisah Keluarga Chalifoux, Jual Anak Sendiri karena Krisis Ekonomi AS

Kisah Keluarga Chalifoux, Jual Anak Sendiri karena Krisis Ekonomi AS

Ilustrasi 4 Anak Dijual. (Bettmann/Getty Images)

Krisis ekonomi 1930-an yang melanda Amerika Serikat mengubah seluruh tatanan ekonomi. AS yang semula berjaya dan kaya raya, berubah 180 derajat ke ambang kehancuran.

Banyak masyarakat yang menganggur dan menjadi miskin. Salah satu yang bernasib demikian adalah keluarga Chalifoux yang berasal dari Indiana dan beranggotakan enam orang: dua dewasa (suami-istri) dan empat anak kecil.

Untuk hidup sehari-hari, mereka mengandalkan penghasilan dari Ray Chalifoux, ayah dari keempat anak. Namun, akibat krisis ekonomi, Ray yang semula supir truk terdampak PHK https://rtpkas138.click/ dan harus menganggur, sehingga membuat ekonomi keluarga berantakan. Hidup keluarga itu pun jungkir balik.

Mereka tak bisa memasak dan membayar cicilan apartemen. Mau tidak mau, mereka terancam terusir dan kehilangan tempat tinggal.

Di tengah kondisi demikian, sang Ibu bernama Lucille Chalifoux, membuat keputusan yang membuat seluruh AS gempar, yakni menjual keempat anaknya dan satu anak yang berada di kandungan. Total, ada lima anak yang dijual.

Lucille tidak main-main. Dia bahkan memberi kesempatan kepada koran lokal Vidette-Mesengger untuk memasarkan anak-anaknya. Atas dasar inilah, pada 5 Agustus 1948, foto keempat anaknya, antara lain Lana (6), Rae (5), Milton (4), dan Sue Ellen (2), terpampang jelas di koran yang disertai papan bertuliskan “4 Children for Sale”.

Ilustrasi 4 Anak Dijual. (Bettmann/Getty Images)Foto: Ilustrasi 4 Anak Dijual. (Bettmann/Getty Images)
Ilustrasi 4 Anak Dijual. (Bettmann/Getty Images)

Mengutip NY Post, kabar penjualan anak itu lantas dipublikasikan ulang oleh berbagai surat kabar di negara bagian tetangga. Mau tidak mau, kabar ini langsung viral ke seluruh negeri di masanya.

Keviralan itu sontak membuat keluarga Chalifoux menjadi sorotan. Ada yang menyebut keputusan itu hanya langkah sang ibu untuk cari perhatian.

Namun, di sisi lain, banyak pula dermawan yang mengirimkan bantuan. Mulai dari tawaran kerja, rumah, dan bantuan keuangan.

Entah apa yang dipikirkan keluarga, seluruh permintaan itu kemudian ditolak. Mereka tetap ingin seluruh anaknya terjual dan pada akhirnya keinginan itu terwujud juga.

Dua tahun kemudian semua anak Chalifoux telah diadopsi oleh beberapa keluarga tanpa surat resmi. Kendati demikian, kehidupan para anak setelah diadopsi oleh orang tua asuh bukan berarti bahagia.

Situs Vintage mengungkap mayoritas dari mereka malah kerap mengalami penyiksaan, pelecehan, dan perbudakan. Salah satu anak bernama Rae, misalnya.

Setelah dijual dia hidup dalam kesengsaraan. Dia sering dirantai, dipaksa kerja berjam-jam di ladang, dan dipanggil budak oleh ayah angkat.

Lalu, Milton yang dijual di usia 4 tahun juga mengalami tindakan serupa. Dia kerap dipukuli dan disiksa.

Dari ke-5 anak, hanya David saja, anak yang diadopsi saat berusia 1 tahun, yang punya nasib baik. Dia diadopsi oleh keluarga Kristen yang taat, sehingga bisa punya bekal agama dan jenjang pendidikan yang baik.

Setelah masa-masa kelam itu, seluruh anak keluarga Chalifoux tumbuh dewasa tanpa pernah saling mengenal. Mereka juga tak lagi berhubungan dengan ayah dan ibu kandung.

Hingga akhirnya di tahun 2012, David yang kasak-kusuk mencari kakak kandungnya berhasil mempertemukan kembali seluruh anak-anak Chalifoux. Dari pertemuan itu, tak sedikit dari mereka yang menyimpan dendam kepada orang tua mereka karena tega menjualnya di masa kecil.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*