Kisah Crazy Rich Misterius RI, Raja Santan ‘Penjajah’ Dunia!

Tay Juhana Foundation (TJF) (Dok: Gallery Tay Juhana Foundation)

Bulan puasa sudah di depan mata. Di Indonesia puasa identik dengan makanan berbuka yang khas. Sebut salah satunya adalah kolak. Panganan yang di dalamnya terdapat pisang, ubi, atau singkong ini berbahan dasar campuran santan dan gula jawa.

Biasanya santan diperoleh secara cara praktis, yakni membeli santan kemasan. Merek yang paling terkenal adalah Kara. Saking populernya, produk santan cepat saji ini sudah menjadi kata ganti untuk penyebutan santan kemasan, sama seperti Aqua untuk air mineral dan Odol untuk pasta gigi. 

Di balik populernya Kara tak banyak yang mengetahui siapa sosok di balik pendiriannya.

Sosok itu adalah Tay Juhana. Tay adalah imigran China yang terusir dari tanah nenek moyangnya karena perang. Dia lahir pada 28 Oktober 1938 di Singapura, tempat pelarian bapaknya, Tay Aik Leng, dari China.

Singapura adalah laboratorium bisnis pertama Tay Juhana. Karena sering berkelahi dengan temannya di sekolah, dia diajak bisnis oleh bapaknya di usia 19 tahun atau tepat pada 1957. Bisnis yang dijalaninya adalah kopra, salah satu produk turunan buah kelapa. Persentuhan dengan kelapa sejak kecil inilah kemudian menjadi titik balik kehidupan Tay.

Sebagaimana dipaparkan Tay Ciaying dalam Tay Juhana: Pelopor Industri Kelapa (2018), selama berbisnis kopra Tay muda kerap mondar-mandir wilayah Sumatera Timur, khususnya Riau. Sebab di sana banyak tumbuh subur pohon kelapa untuk dibawanya dan dijual di Singapura. Dari sini dia paham seluk-beluk bisnis kelapa, termasuk kerumitannya.

Hingga akhirnya, Tay berani mendirikan perusahaan sendiri usai menjalani proses naturalisasi dan mendapat kewarganegaraan Indonesia. Tepat pada 1967 dia mendirikan PT Pulau Sambu di Kuala Enok, Riau.

“Pabrik yang dibangun Tay memulai produksi minyak kelapa yang dijual tanpa memakai drum. Bangunanya sangat sederhana. Tidak modern sama sekali dan lebih mirip disebut gudang,” tulis Tay Ciaying, yang kebetulan anak dari Tay Juhana.

Meski seperti gudang, perusahaan tersebut mampu berkembang pesat. Pasalnya, tidak ada perusahaan serupa di bisnis kelapa. Sayang, tiga tahun sejak berdiri, PT Pulau Sambu mengalami kejatuhan karena buruknya manajemen. Tay Juhana bangkrut dan harus menyusun kembali perusahaan dari nol selama enam bulan lebih.

Apa yang dilakukan Tay sungguh anti-mainstream. Jika keturunan Tionghoa di masanya berbisnis di industri strategis nasional, seperti Sudono Salim misalnya, maka Tay tidak demikian. Dia malah tampil beda dengan fokus berdagang kelapa di tempat jauh dari hiruk-pikuk modernitas perkotaan. Begitu juga tidak dekat dengan penguasa, yakni Presiden Soeharto beserta keluarga dan kroninya.

Dalam laman resmi perusahaan, hanya butuh waktu 6 tahun sejak kebangkrutannya, Tay sudah mampu mendirikan pabrik pengolahan minyak kelapa lebih besar, sekaligus juga memperluas perkebunan kelapa. Dia sukses menyulap puluhan ribu hektar tanah tidak produktif di Riau menjadi ladang kelapa.

Sejak itu minyak kelapa buatan Sambu Group merajalela di pasaran Sumatera dan Singapura.

Namun, seiring waktu terjadi perubahan. Masifnya industri kelapa sawit di Indonesia yang dilakukan pengusaha-pengusaha besar membuat pasar minyak sawit tumbuh sumbur. Dengan harga lebih terjangkau, jelas minyak sawit lebih digandrungi masyarakat.

Pada titik inilah Tay Juhana mulai beralih. Dia lantas berkreasi untuk meningkatkan nilai tambah dan daya tarik dari sebutir kelapa. Dia lantas membuat inovasi baru, yakni santan.

Saat itu di dunia tidak ada satupun produk santan yang dikemas. Dari sinilah Tay Juhana menciptakan terobosan membuat santan kemasan aseptik pertama di dunia bermerek Kara dan Sun Kara pada 1989.

Sejak itulah, bisnis kelapanya beralih perlahan menjadi pengolahan kelapa parut. Dari kelapa parut itu lahirlah santan.

Karena satu-satunya pemain di dunia jelas santan Kara langsung menjadi raja. Banyak negara Asia, yang makanannya banyak berbahan dasar santan, memborong produk Tay Juhaya ini dalam jumlah besar.

Tercatat sejak saat itu hingga sekarang Kara merajai pasar domestik di Indonesia, negara Asia Tenggara dan sudah terjual ke lebih dari 150 negara di dunia. Karena tidak dekat dengan penguasa, nama Tay Juhana tidak begitu terkenal meski dia sudah ‘menjajah’ dunia hanya lewat santan.

Tak diketahui pula berapa banyak kekayaannya dari keuntungan jual-beli jutaan liter santan. Anak-anaknya juga misterius, tak banyak yang diketahui. Satu-satunya skandal yang pernah menimpa Tay terjadi pada tahun 1990-an.

Saat itu dia, yang punya pengalaman menyulap lahan, terlibat pada proyek food estate pemerintah Soeharto yang ingin mengubah rawa-rawa di Kalimantan menjadi lahan produktif. Sayang, itu semua gagal dan Tay harus menjadi target amukan masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*