Calon Korban Krisis Laut Merah Makin Banyak, Waspada Malapetaka Baru

Calon Korban Krisis Laut Merah Makin Banyak, Waspada Malapetaka Baru

Fregat Denmark Iver Huitfeldt berangkat ke Teluk Aden, dari Pangkalan Angkatan Laut di Korsoer, Denmark, 29 Januari 2024. Fregat Denmark akan berkontribusi untuk memperkuat keamanan maritim di dan sekitar Laut Merah. (Ritzau Scanpix/Mads Claus Rasmussen via REUTERS)

Kelompok Houthi makin menyadari pentingnya jaringan kabel bawah laut di sekitaran Laut Merah. Perusahaan-perusahaan telekomunikasi yang terkait dengan pemerintah Yaman yang diakui PBB pun mengatakan khawatir kelompok Houthi berencana menyabotase jaringan kabel bawah laut di Laut Merah.

Padahal, jaringan ini penting bagi berfungsinya internet barat, dan untuk transmisi data keuangan. Peringatan itu muncul setelah saluran Telegram yang terkait dengan Houthi menerbitkan peta kabel yang membentang di sepanjang dasar Laut Merah.

Gambar tersebut disertai dengan pesan: “Ada peta kabel internasional yang menghubungkan seluruh wilayah di dunia melalui laut. Tampaknya Yaman berada di lokasi yang strategis, karena jalur internet yang menghubungkan seluruh benua – tidak hanya negara – lewat di dekatnya.”

Yemen Telecom mengatakan pihaknya telah melakukan upaya diplomatik dan hukum selama beberapa tahun terakhir untuk membujuk aliansi telekomunikasi internasional global agar tidak berurusan dengan Houthi, karena hal itu akan memberikan kelompok teroris pengetahuan tentang bagaimana kabel bawah laut beroperasi.

Diperkirakan Laut Merah menyalurkan sekitar 17% lalu lintas internet dunia melalui pipa fiber.

Dalam sebuah pernyataan, Perusahaan Telekomunikasi Umum Yaman mengutuk ancaman milisi Houthi yang menargetkan kabel bawah laut internasional.

Mereka memperingatkan sebanyak 16 kabel bawah laut – yang seringkali tidak lebih tebal dari pipa air dan rentan terhadap kerusakan akibat jangkar kapal dan gempa bumi – melewati Laut Merah menuju Mesir. Salah satu yang paling strategis adalah AE-1 Asia-Afrika-Eropa sepanjang 25.000 km (15.500 mil) yang berangkat dari Asia Tenggara ke Eropa melalui Laut Merah.

Analis keamanan di Forum Keamanan Teluk mengklaim pekan lalu dalam sebuah laporan bahwa “kabel-kabel tersebut lebih aman karena keterbelakangan teknologi yang relatif dimiliki oleh Houthi dibandingkan karena kurangnya motivasi”.

“Houthi telah mempertahankan kemampuan untuk mengganggu pengiriman permukaan melalui rudal dan kapal serang cepat tetapi tidak memiliki kapal selam yang diperlukan untuk mencapai kabel,” tambah analisis tersebut, seperti dikutipĀ The Guardian.

Namun, pihaknya memperingatkan bahwa kabel di beberapa titik berada pada kedalaman 100 meter, sehingga mengurangi kebutuhan akan kapal selam berteknologi tinggi. Pada tahun 2013, tiga penyelam ditangkap di Mesir karena mencoba memotong kabel bawah laut di dekat pelabuhan Alexandria yang menyediakan sebagian besar kapasitas internet antara Eropa dan Mesir.

Moammar al-Eryani, menteri informasi di pemerintahan Yaman yang berbasis di Aden, mengatakan bahwa Houthi merupakan ancaman serius terhadap “salah satu infrastruktur digital terpenting di dunia”. Ia menambahkan bahwa Houthi adalah kelompok teroris yang tidak memiliki batasan.

kas138

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*